Kelak, Pemimpin Demokrat Harus Jadi Penyubur!

TAK lama lagi partai Demokrat akan menggelar Kongres ke IV untuk memilih Ketua umum serta membahas arah kebijakan partai berlambang mercy tersebut. Berbagai harapan tentu digantungkan dalam pelaksanaan Kongres dan kepada siapapun nakoda partai tersebut.

Kedepan, partai Demokrat harus semakin banyak diisi oleh orang-orang yang berkompten sehingga lebih mampu menyikapi sesuatu secara komprehensif dengan kemampuan mengeluarkan pernyataan sejuk bukan yang membuat gaduh banyak pihak.

“Saya berharap, kiranya partai Demokrat menjadi tempat berkumpulnya tokoh tokoh intelektual dan bijak. Jika berucap dan mengeluar kata-kata yang sejuk dan menyejukkan. Sebagaimana platform awal bedirinya partai Demokrat,” kata mantan Wakil Sekjend DPP partai Demokrat HM Darmizal Minggu 1 Maret 2020.

Darmizal melihat, hari ini dan kedepan rakyat membutuhkan satu partai yang dapat menjadi rumah besar bagi masyarakat luas. Dimana, partai itu menjadi tempat mereka untuk bertanya dan mencari solusi. “Bukan malah memberikan ungkapan yang propaganda dengan kalimat-kalimat membingungkan karena bertolak belakang antara janji yang diucapkan dengan perbuatan”.

Pimpinan Komisi Pengawas (Komwas) partai Demokrat non aktif ini menambahkan, pimpinan Demokrat hasil Kongres haruslah yang memahami dan mengenal baik tokoh pembuat sejarah dimasa lalu dan melihat peluang besar dimasa depan. Ada pepatah Minang yang mengatakan “Jemput semua yang tertinggal dan kumpulkan semua yang terserak”.

“Jadi bukalah pintu seluas-luasnya bagi semua potensi untuk menjadi bagian dari keluarga besar partai. Maka partai Demokrat pasti bisa berjaya kembali. PD pasti bisa dan ini kesempatannya,” kata Darmizal.

Bagi siapa pun yang terpilih menjadi  pemimpin partai di tingkat pusat, menurut Darmizal, sebaiknya tokoh yang berkunjung kedaerah untuk memberi, meringankan dan menyenangkan kader didaerah.

“Jangan sampai, jika ada rencana pimpinan dari pusat berkunjung justru memberatkan kader didaerah. Atau kader daerah menjadi risau karena keadaan mereka yang sedang berat. Kelemahan atau ketidak mampuannya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pimpinan karena masalah keterbatasan,” ungkap Darmizal.

Dia mengibaratkan, kepemimpinan seseorang harus berpedoman pada sifatnya air. Hidup yang mengalir, dari atas turun kebawah untuk menyuburkan. Bukan malah membuat “gersang” tanaman yang ada dibawahnya.

“Adalah sangat baik, jika pemimpin berprinsip seperti sifatnya air. Hidup yang mengalir, dari atas turun kebawah  menyuburkan dan menyehatkan bukan disedot kemudian mengeringkan bahkan menyulitkan,” pungkas alumni Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini. (kurnia)