Jangan Jadikan Perahu IWO untuk ‘Berkelahi’

JAKARTA, HNN – Hari ini memasuki bulan Agustus, tepat tanggal 8 bulan 8 lima tahun silam kami mendeklarasikan Ikatawan Wartawan Online (IWO) di Jakarta bersama puluhan teman-teman wartawan yang kini telah tercatat sebagai pendiri IWO akta notaris.

“Saya sebagai salah satu inisiator berdirinya IWO saya dalam hati menangis,” kata Sekretaris Jenderal (IWO) Witanto Selasa (1/8/2017).

Menangis kata pria kelahiran Yogyakarta ini, saat saya diberikan amanah oleh para pendiri sebagai Sekjend untuk pertama kali. Karena saya yakin amanah ini tidaklah mudah disaat usia saya yang masih belia.

Perlahan, tangisan saya terhenti saat beberapa sahabat kami didaerah berkenan menjadi deklarator berdirinya IWO didaerah.

Saya terharu, dalam perjalan waktu. Namun, saya juga tidaklah membusungkan dada karena IWO saat ini sudah berdiri di puluhan Provinsi/Kabupaten dan Kota.

“Yang saya banggakan adalah persaudaan diantara kita semuanya,” kata dia.

Dirinya berpikir persaudaan dan menjalin tali silaturahmi jauh lebih penting dari pada menjalankan organisiasi ini.

Saya yakin suatu saat nanti pasti akan meninggalkan organiasi ini untuk regenerasi.

Perjalanan roda organisasi sudah saya jalankan sesuai amanah dari teman-teman pendiri.

“Meski belum kok pondasi ini, namun saya berupaya meletakkan batu-batu agar podasi IWO semakin kuat dan kokoh kedepannya,” kata dia.

Saya berharap, siapapun yang menjadi nahkoda perahu ini nantinya baik ditingkat pusat maupun daerah agar selalu rendah hati. Bungkukkan lah dada jangan membusungkan dada.

Jangan bangga menjadi seorang kepala karena dikepala itulah harus bisa memilah dan memilih.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada para pendiri yang selama ini telah berada dibekalang saya untuk mensuport dalam berbagai hal”.

Tak lupa saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada sahabat-sahabat saya di berbagai daerah. Karena saya yakin tanpa kalian IWO tidaklah ada apa-apanya.

Mari jadikan perahu ini untuk berjuang bersama menseterakan wartawan online dengan wartawan lainnya di Dewan Pers.

“Jangan jadikan perahu ini untuk saling “berkelahi”. Karena diperahu inilah tertanam tali silaturahmi,” demikian Witanto menjelaskan. (julia)