Enyahkan Tempe Busuk dan Jelantah dari Dapur

SEMARANG, HNN – Tim Penggerak PKK diminta untuk lebih intens menyosialisasikan mengenai gizi seimbang kepada masyarakat. Pasalnya, masih banyak warga yang belum begitu faham mengenai gizi seimbang.

“PKK sudah intensif menyosialisasikan kanker serviks, HIV/ AIDS. Tapi untuk gizi, saya lihat masih belum begitu faham gizi seimbang. Masih perlu sosialisasi mengenai gizi kepada masyarakat,” pinta Ratna dari Dinas Tenaga Kerja dan Provinsi Jawa Tengah, kepada Wakil Ketua I TP PKK Provinsi Jawa Tengah Hj Sudarli Heru Sudjatmoko yang menjadi narasumber pada acara Penggalangan Komitmen Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Tingkat Provinsi Jawa Tengah, di Hotel MG Suites, Kamis (13/4/2017).

Menanggapi hal tersebut, Sudarli menyampaikan pihaknya, terutama Kelompok Kerja (Pokja) III, tidak pernah berhenti menyosialisasikan mengenai makanan beragam, berimbang, bergizi, sehat, dan aman (B3SA) kepada para kader PKK maupun masyarakat. Hal tersebut sebagai bagian dari upaya PKK dalam menggerakkan warga untuk menciptakan generasi muda yang lebih berkualitas.

Masyarakat diajarkan mulai dari pemilihan bahan makanan, mengetahui kandungan gizi, hingga pengolahan yang tepat agar gizi tidak berkurang. Metodenya pun bermacam-macam. Bahkan, dikutip situs pemprov jateng, ada yang sesekali mengajarkan cara memasak yang benar kepada masyarakat.

Misalnya, memasak kangkung, tempe, dan nasi, yang pada akhirnya digunakan untuk makan bersama. Sebab, masih banyak masyarakat yang tidak bervariasi dalam memasak.

“Akibatnya, anak jadi malas makan di rumah. Ini tidak bisa dibiarkan. Cara memasak yang benar juga harus diperhatikan supaya makanan yang dimakan tidak hanya ampasnya saja,” kata mantan Ketua TP PKK Kabupaten Purbalingga ini.

Pemilihan bahan makanan, imbuhnya, mesti diperhatikan benar. Jangan gunakan bahan makanan yang tidak segar dan mengandung bahan berbahaya. Sudarli mengingatkan agar penggunaan tempe busuk yang masih sering digunakan masyarakat agar masakannya lebih sedap, harus dihindari.

Sebab, berdasarkan referensi dan pernyataan para pakar kesehatan, kedelai busuk dapat meningkatkan risiko kanker. Begitu pula dengan penggunaan jelantah yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan

“Tidak ada istilah buat sambal tumpang pakai tempe busuk karena itu bahaya sekali. Enyahkan tempe busuk dari dapur kita, juga jelantah. Kalau pakai minyak sedikit saja, jadi nggak apa-apa kalau sisanya dibuang,” beber Sudarli.

Selain gizi, tuturnya, masih banyak kegiatan yang dilakukan TP PKK bersama kadernya yang tersebar hingga tingkat dasa wisma. Termasuk, memantau ibu hamil hingga melahirkan, memantau kesehatan dan tumbuh kembang anak, hingga memperkuat ketahanan keluarga.

Kendati begitu, apa yang dilakukan PKK tidak akan berhasil tanpa dukungan semua pihak. Karenanya, Sudarli meminta agar berbagai pihak, khususnya jajaran Dinas Kesehatan, dapat membekali para kader dengan pengetahuan. Di level provinsi atau kabupaten/ kota bisa bekerja sama dengan TP PKK provinsi dan kabupaten/ kota. Di tingkat kecamatan, diharapkan ada kerja sama puskesmas dengan TP PKK kecamatan.

“Jika semua masyarakat faham Germas dan melaksanakannya, Indonesia menjadi sehat, dan generasi sehat akan terwujud,” tandasnya. (Ui/yara)