Dari Catatan, Lingkungan Terdekat jadi Predator Bagi Anak

MENINGKATNYA berbagai pelanggaran terhadap anak seperti  penyiksaan, penelantaran, eksploitasi seksual komersial dan ekonomi,  kejahatan seksual bergerombol (geng rape),  kekerasan fisik, prostitusi anak, perdagangan dan penculikan anak untuk tujuan seksual, adopsi illegal dan kasus-kasus perundungan terhadap anak di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia saat ini  berada pada posisi darurat kejahatan terhadap kemanusiaan.

Anak-anak dirusak masa depannya serta harkat dan martabatnya. Berbagai  kejahatan dan perlakuan salah terhadap  anak yang terjadi saat ini, anak-anak tidak lagi dianggap  sebagai manusia yang mempunyai hak asasi.

Anak dianggap sebagai properti bahkan anak sudah dianggap sebagai alternatif ekonomi keluarga. Kekerasan terhadap anak baik secara fisik dan seksual sebarannya  terjadi dimana-mama.

Oleh sebab itu,  tidaklah berlebihan jika anak-anak Indonesia saat ini  sedang berada pada posisi tidak nyaman dan aman.

Rumah, sekolah, ruang publik bahkan lingkungan sosial anak dalam kenyataan justru telah menjadi ancaman dan tidak lagi ramah dan bersahabat bagi anak.

Dari berbagai kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di nusantara, lingkungan terdekat  anak seperti orangtua, paman, abang, guru, dan tetangga justru menjadi predator dan monster yang menakutkan bagi anak.

Kejahatan dalam bentuk lain yang sangat menakutkan dan menjadi ancaman bagi masa depan anak dan kesatuan bangsa  adalah maraknya penanaman paham radikalisme, intoleransi, kebencian, kekerasan dan persekusi dikalangan anak baik diruang kelas, ruang publik maupun di lingkungan sosial anak.

Banyak  anak-anak diajarkan kebencian melalui pelibatan anak-anak dalam aksi demonstrasi dan kegiatan politik orang dewasa yang dibungkus dengan identitas agama sekaligus telsh dilarang oleh ketentuan hukum dan perundang-undangan  fan banyak juga anak-anak di lingkungan sosial menaruh permusuhan terhadap perbedaan.

Bila situasi demikian dibiarkan oleh negara tentu dikawatirkan akan memunculkan perpecahan dan menimbulkan perilaku kekerasan diantara sesama anak.

Meningkatnya kasus kekerasan dalam bentuk perundungan (bulying) yang baru-baru ini terjadi di pusat perbelanjaan Thamrin City dan disalah satu Universitas di Depok Jawa Barat hingga menjadi viral di media sosia adalah salah satu contoh bentuk kekerasan yang sudah dianggap sebagai candaan.

Menyikapi situasi anak yang sedemikian menakutkan ini, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) sebagai lembaga pelaksana tugas dan fungsi keorganisasian dari Perkumpulan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pusat yang terdaftar berbadan hukum di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan sejak didirikan pemerintah dan pemangku kepentingan perlindungan anak (stake holders) sejak tahun 1998 memberikan pelayanan advokasi, promosi dan perlindungan anak di Indonesia menyampaikan pesan moral “Ayo, Kita selamatkan anak Indonesia dari penanaman paham radikalisme, intoleransi, kenbencian, kekeradan dan persekusi”.

Alangkah kejam dan teganya kita sebagai orangtua merusak masa depan anak melalui penanaman ujaran kebencian. Alangkah sadisnya pula kita sebagai orangtua membiarkan anak menerima ajaran kebencian dan kekerasan.

Untuk memutus mata rantai kekerasan terhadap anak dan menangkal penanamam paham radikalisme, intoleransi, kebencian dan persekusi dikalangan anak-anak Indonesia dan menjamin perlindungan anak harus dimulai dari keluarga.

Keluarga masa kini harus sungguh-sungguh menanamkan nilai-nilai kebaikan. Orangtua dan keluarga harus menjadi teladan bagi anak.

Rumah harus bersahabat dan ramah untuk anak serta rumah harus menjadi garda terdepan untuk menjaga dan melindungi anak. Interaksi spritualitas dan penanaman nilai-nilai agama dalam keluarga harus terus dikembangkan.

Disamping itu, orangtua harus mampu menyempurnakan pendidikan dan pengajaran agama dalam keluarga. Dan yang paling penting lagi adalah keluarga harus mampu mengunah paradigma pola pengasuhan anak dari pola pengasuhan otoriter menjadi dialogis dan partisipatif.

Oleh: Arist Merdeka Sirait

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA)